Diantara delapan kesepakatan itu adalah menjunjung tinggi sportivitas, menjaga keamanan selama pertandingan sepak bola dan mengkoordinasi sesama suporter.
‘’Kesepakatan ini dibuat, agar suporter dapat damai dalam setiap pertandingan sepak bola di Jatim. Sehingga tercipta keamanan yang kondusif dan aman di Jatim,’’ tandas Irjen Pol Badrodin Haiti, Kapolda Jatim usai pendatanganan kesepakatan damai antar suporter se Jatim di Mapolda Jatim, Selasa siang.
Dikatakan dia, untuk saat ini pihaknya ingin membangun suporter sepak bola sportif dan bermartabat. Para suporter diminta komitmennya ikut menjaga Jatim tetap aman dan kondusif. ‘’Mereka kita minta ikut memelihara kamtibmas dan harus terus rukun,’’ harapnya.
Selain itu, lanjut dia, suporter di Jatim agar selalu menjaga sportivitas, tidak meresakan masyarakat, tidak melanggar hukum, serta tidak menganggap lawan tim yang didukung sebagai musuh.
‘’Ingat bangsa Indonesia bangsa yang pluralis. Karena itu suporter di Jatim jangan sampai terpecah. Kita semua saudara,’’ imbuhnya.
Sementara itu, Soekarwo Gubernur Jatim mengatakan, Jatim memiliki banyak tim yang berlaga di kompetisi di Indonesia, baik Indonesia Super League maupun Liga Primer Indonesia. Tim itu juga memiliki prestasi yang sangat luar biasa, hingga suporter yang fanatik.
’’Suasana perkumpulan ini sangat bagus karena apabila suporter dapat damai dalam setiap pertandingan, membuat keamanan Jatim jadi aman dan nyaman,’’ tuturnya
Selain itu, Soekarwo juga mengaku siap untuk tidak mengeluarkan anggaran APBD bagi sepak bola. Sebaliknya, pemerintah mendukung sepak bola menjadi industri yang mencari dana sendiri tanpa bantuan APBD.
‘’Kalau APBD mau dibatalkan, bisa dibatalkan. Asal suporter bisa membuat situasi aman, pergi aman, pulang aman. Kalau sepak bola jadi industri, ini akan jadi pesta luar biasa,’’ ucapnya.
Disebutkan dia, korlap suporter diminta untuk berdiskusi dan merumuskan apa yang selama ini menjadi masalah sekaligus solusi. Sehingga, para suporter bisa selamat di setiap pertandingan dan tidak meresahkan masyarakat.
‘’Sepak bola memang membutuhkan suporter fanatik. Jaminan keamanan pun harus diberikan para suporter untuk stabilitas keberlangsungan persebakbolaan di Jatim. Saya setuju apabila sepak bola jadi industri asal para suporternya dapat damai dalam setiap pertandingannya,’’ tegasnya.
Sementara itu dari pertemuan antar suporter yang juga dihadiri perwakilan suporter berbagai daerah di Jatim ini, diantaranya Aremania, Deltamania, LA Mania, Bonekmania, Persikmania dan Boromania, juga mengungkapkan beberapa hal.
Nur Hasyim, perwakilan Bonek Surabaya dalam pertemuan ini, secara tegas dan jujur menyatakan permintaan maafnya, atas ulah yang ditimbulkan Bonekmania.
Disadari atau tidak, Bonek terkadang memang telah berulah yang sifatnya merugikan masyarakat atau juga para pendukung sepakbola klub lainnya.
‘’Karena itu, kami juga berharap, agar rekan-rekan wartawan media massa ikut membantu kami untuk tidak menurunkan berita-berita, yang sifatnya bisa memprovokasi Bonek,’’ tuturnya serius.
Pernyataan kritik dan saran lain, kemudian disampaikan masing-masing perwakilan yang hadir. Dari ungkapan mereka banyak terdengar saran yang bersifat membangun dan mempersatukan antar suporter di Jatim. Bahkan, dari mereka pula terungkap sebenarnya antar suporter itu tidak pernah ada perselisihan.
‘’Tidak benar kalau antar suporter di Jatim itu saling gesekan. Kami antar pentolan atau pengurus suporter sering kumpul-kumpul. Tetapi, mereka yang ada di tingkat bawah yang masih sering berulah. Ini terjadi, mungkin juga karena kemampuan kami memang sangat terbatas,’’ tutur Saiful Mubaroq (Deltamania), M Hanif (Persikmania) dan Heru (Aremania) secara bergantian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar